Kadang aku merasa heran dengan langkahku sendiri. Seolah-olah sedang berjalan seorang diri, membawa niat baik namun sering tersandung oleh kelemahan hati. Ada saat-saat ketika aku merasa sudah cukup berdakwah, sudah menyampaikan kebaikan, sudah mengajak orang lain menuju cahaya. Tapi ketika bicara sedekah, tiba-tiba hatiku terasa berat. Seakan tangan ingin memberi, tetapi pikiran menahan dengan seribu alasan.
Padahal aku teringat kisah para sahabat Nabi ﷺ—mereka yang hatinya begitu lapang, bahkan dalam keadaan yang jauh lebih sempit dari kehidupanku. Ada Abu Bakar r.a. yang suatu hari membawa seluruh hartanya kepada Rasulullah ﷺ. Ketika ditanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?”, ia menjawab dengan ketenangan yang membuat langit seakan ikut menyimak: “Aku tinggalkan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.”
Aku menggumam, bisakah hatiku seteguh itu?
Lalu ada Umar r.a. yang suatu ketika merasa yakin ia bisa mengalahkan Abu Bakar dalam kebaikan. Ia membawa separuh hartanya. Tapi ketika melihat Abu Bakar membawa semuanya, ia berkata lirih dalam hatinya, “Aku tidak akan pernah bisa mengalahkan Abu Bakar.”
Aku menatap diriku sendiri—sedekahku masih dihitung, masih ditimbang-timbang, masih ditahan oleh rasa takut kekurangan, padahal Allah sudah menjanjikan berkali-kali:
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”
(HR. Muslim)
Namun nyatanya, yang berkurang bukan hartaku… yang sering berkurang justru keikhlasanku.
Dan lebih jauh lagi, aku merasa sering bersedekah, tetapi ibadahku sendiri belum terjaga. Berbuat baik kepada orang lain kadang terasa lebih ringan dibanding memperbaiki hubungan dengan Allah. Seolah aku membawa bejana yang retak—air kebaikan yang kutuangkan keluar, tapi bejanaku sendiri kosong.
Di titik ini aku merasa seperti ditegur dengan lembut oleh sabda Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian, tidak pula harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)
Maka aku tersadar…
Mungkin bukan dakwahku yang kurang kuat.
Bukan sedekahku yang terlalu sedikit.
Bukan pula ibadahku yang tak berarti.
Yang kurang adalah hati yang terisi rasa takut kepada Allah dan harapan yang penuh kepada-Nya.
Hati yang bersandar, bukan hanya berlari.
Hati yang yakin, bukan hanya memberi.
Hati yang ingin dekat, bukan sekadar terlihat baik.
Perjuangan ini memang sering terasa sepi, tapi sesungguhnya tidak pernah sendiri. Ada malaikat yang mencatat, ada doa yang naik ke langit meski tanpa suara, ada rahmat Allah yang memeluk hamba-hamba-Nya yang sedang berusaha kembali.
Maka aku berkata pada diriku sendiri
“Teruslah berdakwah meski berat.
Teruslah bersedekah meski sedikit.
Teruslah beribadah meski kadang goyah.
Karena Allah melihat perjalananmu, bukan hanya hasil akhirnya.”
Dan barangkali…
di situlah ketenangan itu akan tumbuh kembali.
#ibadah #sedekah #muslim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar