Dalam perjalanan hidup ini, saya belajar bahwa inti dari semua langkah adalah kesabaran—kesabaran menghadapi ketidakpastian, kesabaran menenangkan hati sendiri ketika pikiran dipenuhi bayangan buruk tentang ujian yang mungkin terjadi. Pelajaran itu justru tumbuh kuat dari pengalaman saya mendampingi orang-orang sakit, saat saya menyaksikan sendiri bagaimana hidup dapat berubah seketika tanpa memberi tanda apa pun. Saya pernah berdiri lama di lorong-lorong rumah sakit yang sunyi, memerhatikan gerakan kecil perawat yang mendorong tempat tidur pasien, mendengar helaan napas berat seorang ibu yang bermalam di selasar hanya karena satu-satunya harapan hidupnya sedang dirawat di balik pintu kaca. Ada pula momen ketika saya menatap gedung tinggi berwarna hijau tempat para penderita penyakit kronis dirawat—pandangannya seperti menggantung di antara harapan dan kemungkinan terburuk, seakan-akan setiap jendela memuat cerita tentang manusia yang sedang diuji di batas kekuatan. Dari situ saya merasakan betapa rapuhnya kehidupan, betapa mudahnya hati terguncang oleh rasa cemas ketika menghadapi situasi yang tidak jelas: hasil medis yang belum keluar, kondisi yang naik turun, atau doa yang tak kunjung terlihat jawabannya. Namun justru dalam setiap ketidakpastian itulah saya menemukan hikmah bahwa manusia tidak pernah benar-benar sendiri. Bahwa kesabaran bukan sekadar menunggu, tetapi kemampuan menahan diri dari ketakutan, menguatkan hati meski tidak tahu apa yang menanti di depan. Dan perlahan saya memahami bahwa semua rasa cemas yang menghimpit itu pada akhirnya membawa saya pada pemahaman yang lebih dalam: bahwa hidup ini bukan tentang menghindari ujian, tetapi tentang bagaimana tetap tenang, tetap baik, dan tetap percaya bahwa Allah selalu menjaga, bahkan di saat-saat ketika dunia terlihat paling gelap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar