“Dulu, Kalongan adalah tempat yang menakutkan bagi siapa pun yang melewatinya.
Orang-orang tahu, di situlah dadu dan domino dimainkan hingga larut malam.
Botol-botol minuman keras bertebaran, dan bebatuan besar di sudutnya sering diberi sesajen, bunga, dan dibakar kemenyan.
Saat malam tiba, tak banyak yang berani lewat sendirian, meskipun menggunakan kendaraan.
Suasananya gelap, sunyi, dan penuh cerita yang membuat orang menjauh.”
“Namun semua berubah ketika tempat itu mulai dirawat, dibersihkan, dan akhirnya diwakafkan.
Meski berada tepat di pinggir sungai dan jalan antar desa, kalongan kini menjadi jalur yang ramai dilewati.
Cahaya dari para muhsinin mulai menerangi tempat yang dulu kelam itu.
Yang dulu menjadi lokasi kemaksiatan dan kesyirikan, sekarang pelan-pelan berubah menjadi tempat yang kembali bernapas.”
**Kilas Balik Sejarah Suci:
Dari Tanah Gelap Menuju Cahaya Tauhid**
“Ketika aku melihat tempat ini, ingatanku langsung tertuju pada sejarah Masjidil Haram.
Tanah di sekitar Ka'bah dahulu bukanlah tempat yang bersih atau suci.
Ia dipenuhi berhala, ritual yang menyimpang, dan kebiasaan jahiliyah yang membuat manusia jauh dari Tuhannya.
Namun, justru di tanah seperti itulah Allah perintahkan Nabi Ibrahim dan Ismail untuk membangun rumah-Nya.
Dari tempat yang penuh kesyirikan, bangkitlah pusat tauhid dunia.”
“Maka ketika aku melihat Kalongan hari ini—yang dulunya tempat perjudian, minuman keras, dan sesajen—aku merasa seperti melihat sedikit gambaran sejarah yang sama.
Tempat ini punya masa lalu kelam, tapi juga punya peluang untuk menjadi cahaya hidayah.”
Tekad Dakwah yang Tidak Bisa Ditunda
“Karena itulah aku sangat serius untuk mendirikan masjid di lokasi ini.
Ini bukan sekadar bangunan.
Ini adalah usaha dakwah yang nyata.
Ini adalah ikhtiar untuk mengganti kegelapan dengan cahaya.
Menghapus kemaksiatan dengan suara azan.
Mengganti sesajen dengan sujud.
Menggantikan kisah seram dengan kisah iman.”
“Jika Nabi Ibrahim dan Ismail mampu membangun Ka’bah dengan tangan mereka sendiri,
maka kita pun mampu membangun sebuah masjid di sini—dengan tenaga, doa, dan sedekah.
Kalau dulu penduduk Mekah menjadikan Ka’bah penuh berhala, lalu Allah datangkan seorang hamba yang ikhlas untuk menghidupkan tauhid,
maka mungkin inilah giliran kita.
Giliran kita membersihkan satu sudut bumi dari sisa-sisa jahiliyah.”
“Aku mengajak saudara-saudaraku…
Mari kita ikut ambil bagian dalam mengubah sejarah tempat ini.
Setiap bata, setiap rupiah, setiap doa yang kita titipkan akan menjadi saksi bahwa kita pernah memilih berada di pihak cahaya.
Semoga Allah memilih kita menjadi bagian dari perjuangan ini—sebagaimana Allah memilih Ibrahim dan Ismail membangun rumah-Nya.”
“Semoga masjid ini kelak menjadi tempat anak-anak mengaji,
para musafir beristirahat,
dan para hamba Allah memperbaharui iman mereka.
Dari tempat yang dulunya gelap… kini menjadi sumber cahaya bagi banyak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar