Ketika Persahabatan Diukur dari Pengaruh

Ketika Persahabatan Diukur dari Pengaruh
Dalam satu kecamatan saja, orang-orang yang seharusnya dekat bisa terasa seperti berada di pulau-pulau yang berjauhan. Bukan karena jarak tempat, tetapi karena perbedaan kepentingan, pengaruh, dan loyalitas kelompok.
Persahabatan yang semestinya dibangun atas kepercayaan, ketulusan, dan kepedulian perlahan dapat berubah menjadi hubungan yang bersyarat. Siapa yang memiliki banyak pengikut, memiliki uang, mempunyai jaringan, mudah diarahkan, dan tidak banyak mempertanyakan kepentingan kelompok, lebih mudah diterima dan dipertahankan.
Sebaliknya, orang yang banyak bertanya, kritis, memiliki prinsip sendiri, atau tidak mudah mengikuti arus justru dianggap merepotkan. Bukan karena ia tidak memiliki kebaikan, tetapi karena ia tidak mudah ditempatkan dalam barisan yang sudah ditentukan.
Di sinilah kegelisahan itu muncul.
Setelah sekian lama berinteraksi dengan sebuah kelompok, seseorang bisa merasakan bahwa hubungan yang tampak harmonis ternyata menyimpan banyak ketegangan. Ada rasa saling mengawasi, membaca gerak-gerik, menghitung siapa dekat dengan siapa, siapa mendukung siapa, dan siapa yang dianggap berada di luar lingkaran.
Akhirnya, hubungan antarmanusia tidak lagi sepenuhnya menjadi hubungan persaudaraan. Ia menjadi semacam peta pengaruh.
Yang dicari bukan hanya, “Apakah orang ini baik?” tetapi juga, “Seberapa besar pengaruhnya?”
Bukan hanya, “Apakah ia bermanfaat?” tetapi, “Apakah ia berada di pihak kita?”
Ketika Politik Menjadi Dasar, Dakwah Menjadi Ironi
Yang paling memprihatinkan adalah ketika pola tersebut tumbuh di lingkungan yang membawa nama dakwah.
Dakwah seharusnya mengajarkan manusia untuk mendekat kepada Allah, memperbaiki akhlak, menghargai perbedaan, dan menolong siapa pun yang membutuhkan. Tetapi jika dakwah kemudian bercampur terlalu kuat dengan perebutan pengaruh, maka muncul sebuah ironi:
Yang seharusnya menjadi jalan untuk menyatukan manusia justru dapat menjadi alasan manusia saling memilah.
Orang dibantu karena dianggap bagian dari kelompok. Orang lain diabaikan karena dianggap bukan bagian dari kelompok. Kedekatan dibangun berdasarkan loyalitas, bukan semata-mata berdasarkan kemanusiaan.
Padahal kebaikan tidak mengenal kartu anggota.
Orang yang berbeda pandangan tetap manusia. Orang yang kritis tetap saudara. Orang yang tidak mengikuti kelompok kita tetap bisa memiliki niat baik. Bahkan terkadang, orang yang berani mengatakan “tidak” justru sedang menjaga kita dari kesalahan.
Keprihatinan yang Lebih Dalam
Mungkin yang paling menyakitkan bukan kehilangan teman.
Yang lebih menyakitkan adalah ketika kita mulai bertanya:
“Apakah selama ini kita benar-benar berteman, atau hanya saling membutuhkan?”
Dan pertanyaan berikutnya lebih berat:
“Apakah dakwah yang kita perjuangkan benar-benar untuk Allah, atau tanpa sadar telah menjadi cara mempertahankan pengaruh manusia?”

Komentar