Ketika Kesombongan Tak Lagi Memiliki Arti
Sore itu suasana di depan masjid rumah sakit begitu tenang. Orang-orang berlalu-lalang mengantar keluarga mereka menuju ruang perawatan. Beberapa petugas mendorong tempat tidur pasien menuju bangsal. Di tengah kesibukan itu, aku duduk bersama seorang perawat ICU yang telah bertahun-tahun mengabdikan dirinya merawat pasien dalam kondisi paling kritis.
Dengan tatapan yang tenang, ia berkata, "Kalau bekerja di ICU, kita belajar satu pelajaran yang tidak diajarkan di mana pun."
Aku hanya diam mendengarkan.
Ia kemudian bercerita tentang seorang pasien. Sosok yang semasa sehat dikenal memiliki jabatan, disegani banyak orang, berwibawa, dan sering menjadi pusat perhatian. Di hadapan masyarakat, ia tampak kuat dan dihormati.
Namun ketika sakit datang, semuanya berubah.
Di ruang ICU, tubuhnya terbaring lemah. Tangannya terikat pada sisi tempat tidur agar tidak mencabut selang-selang medis ketika kesadarannya menurun. Matanya hanya terbuka setengah, bibirnya tak lagi mampu menyampaikan perintah, dan orang-orang yang dahulu menunggu arahannya kini hanya bisa berdiri memandang dari balik kaca.
Perawat itu menarik napas panjang lalu berkata lirih, "Di ruangan itu, jabatan tidak lagi berbicara. Kekayaan tidak bisa menggantikan napas. Kehormatan tidak mampu mengusir rasa sakit."
Aku menunduk.
Ia melanjutkan, "Yang membuat hati kami tersentuh justru cerita dari orang-orang yang datang menjenguknya. Mereka berkata bahwa semasa sehat, beliau sering membantu orang tanpa banyak bicara, ringan tangan, dan dermawan. Doa-doa itulah yang terus mengalir."
Kemudian ia memandangku dan berpesan, "Jangan pernah sombong dengan status, jabatan, ilmu, atau harta. Pada akhirnya, manusia akan sampai pada satu keadaan ketika ia tidak mampu lagi membanggakan apa pun. Yang tersisa hanyalah amal baik yang pernah ia tinggalkan dan doa tulus dari orang-orang yang pernah merasakan manfaatnya."
Aku mengalihkan pandangan ke lorong rumah sakit. Beberapa pasien kembali didorong menuju bangsal. Ada yang ditemani keluarga, ada yang hanya ditemani petugas. Pemandangan itu menjadi pengingat bahwa hidup dapat berubah dalam hitungan hari, bahkan hitungan jam.
Saat itu aku menyadari, kesombongan hanyalah milik manusia yang lupa bahwa dirinya juga akan menjadi lemah. Cepat atau lambat, setiap orang akan berada pada titik ketika ia tidak lagi dikenal karena jabatannya, tidak lagi dihormati karena kekayaannya, dan tidak lagi dipuji karena kedudukannya.
Yang akan tetap hidup adalah jejak kebaikan yang pernah ia tinggalkan.
Maka, sebelum hari itu datang, perbanyaklah berbuat baik. Ringankan tangan untuk menolong, lembutkan hati untuk memaafkan, dan rendahkan diri di hadapan Allah. Sebab pada saat tubuh tak lagi mampu berbicara, kebaikanlah yang akan berbicara mewakili kita.
Komentar
Posting Komentar