Belajar Sabar dari Sebuah Perjalanan

 

Belajar Sabar dari Sebuah Perjalanan

Setiap perjalanan dari Muntilan menuju Klaten bagi saya bukan sekadar perjalanan untuk bekerja. Di sepanjang jalan, selalu ada sesuatu yang bisa dipelajari. Orang-orang yang saya temui, warung yang saya lewati, pedagang kecil yang bertahan dengan dagangannya, pengemudi ojol yang menunggu pesanan, hingga masjid-masjid yang menjadi tempat saya singgah, semuanya seperti memberikan pelajaran kehidupan. Mungkin bagi orang lain itu adalah pemandangan biasa, tetapi bagi saya, perjalanan yang dilakukan berulang kali justru menjadi ruang untuk belajar memahami kehidupan.

Salah satu pelajaran terbesar yang saya dapatkan adalah tentang kesabaran. Berada di jalan setiap hari membuat saya belajar bahwa emosi tidak pernah menyelesaikan persoalan. Ada kendaraan yang berjalan lambat, ada yang tiba-tiba berpindah jalur, ada pengendara yang mungkin kurang berhati-hati. Kalau hati tidak dijaga, perjalanan yang seharusnya biasa saja bisa berubah menjadi pertengkaran. Dari situlah saya belajar bahwa menjaga emosi adalah bagian dari menjaga diri. Sampai di tempat tujuan dengan selamat jauh lebih penting daripada membuktikan bahwa kita paling benar di jalan.

Allah mengingatkan, “Inna Allaha ma‘ash-shabirin” — sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Kesabaran ternyata bukan hanya ketika menghadapi musibah besar. Bersabar di jalan, bersabar menghadapi orang lain, bersabar ketika pekerjaan belum selesai, bahkan bersabar ketika keadaan tidak sesuai dengan keinginan, semuanya merupakan bagian dari latihan kehidupan.

Di perjalanan, saya juga sering memperhatikan pedagang angkringan. Mereka mungkin tidak memiliki toko besar, tidak mempunyai modal yang besar, dan belum tentu setiap malam dagangannya habis. Tetapi mereka tetap membuka tempatnya, menata makanan, menunggu pelanggan, kemudian pulang ketika waktunya selesai. Besok mereka datang lagi dan melakukan hal yang sama. Dari mereka saya belajar bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari langkah besar. Terkadang keberhasilan justru dibangun dari kesediaan melakukan pekerjaan kecil secara terus-menerus.

Saya juga melihat kesabaran para pengemudi ojol. Mereka menunggu pesanan, menunggu giliran, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menghadapi panas, hujan, kemacetan, dan ketidakpastian penghasilan. Kita mungkin hanya melihat mereka sebagai orang yang sedang mengantar makanan atau penumpang. Tetapi jika kita mau memperhatikan lebih dalam, di balik kendaraan yang mereka kendarai ada keluarga yang harus dinafkahi, kebutuhan yang harus dipenuhi, dan harapan yang terus mereka perjuangkan.

Kadang saya sengaja berhenti di sebuah masjid pada waktu tertentu. Saya mengambil kesempatan untuk salat Dhuha, berdoa, menenangkan pikiran, atau sekadar duduk sejenak. Dari masjid itulah perjalanan terasa memiliki ruang untuk berhenti. Bukan hanya berhenti secara fisik, tetapi juga berhenti sejenak dari kesibukan pikiran. Terkadang saya bertemu orang lain dan berbicara tentang kehidupan, pekerjaan, kesulitan ekonomi, dan tantangan para pedagang kecil. Percakapan sederhana seperti itu sering kali justru memberikan pelajaran yang tidak saya dapatkan dari tempat lain.

Saya mulai memahami bahwa perjalanan bekerja sebenarnya dapat menjadi sekolah kehidupan. Jalan raya mengajarkan kesabaran. Pedagang mengajarkan ketekunan. Pengemudi ojol mengajarkan perjuangan. Masjid mengajarkan bagaimana berhenti sejenak untuk mengingat Allah. Dan orang-orang yang kita temui mengajarkan bahwa setiap manusia sedang membawa perjuangannya masing-masing.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Al-muslimu man salimal-muslimuna min lisanihi wa yadihi” — seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Bagi saya, hadis ini juga menjadi pengingat dalam perjalanan sehari-hari. Jangan sampai karena terburu-buru kita menyakiti orang lain. Jangan karena emosi kita mengeluarkan kata-kata yang kemudian kita sesali. Jangan sampai perjalanan mencari nafkah justru membuat kita kehilangan ketenangan dan merugikan sesama.

Saya juga belajar bahwa mental seseorang tidak dibentuk hanya ketika menghadapi persoalan besar. Mental dibentuk dari hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari. Bagaimana kita menghadapi kemacetan, bagaimana kita menerima keterlambatan, bagaimana kita menghadapi pelanggan, bagaimana kita menyikapi orang yang berbeda dengan kita, dan bagaimana kita tetap bekerja ketika hasil yang diperoleh belum sesuai harapan.

Allah berfirman, “La yukallifullahu nafsan illa wus‘aha” — Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ayat ini menjadi pengingat bagi saya ketika pekerjaan terasa berat. Bukan berarti semua persoalan akan langsung menjadi mudah, tetapi saya belajar untuk tidak mendahului ketetapan Allah dengan kekhawatiran yang berlebihan.

Maka setiap pagi ketika berangkat bekerja, saya ingin mengubah cara pandang. Saya tidak hanya berangkat untuk mencari penghasilan. Saya sedang menjalankan tanggung jawab. Saya sedang melatih kesabaran. Saya sedang belajar mengendalikan emosi. Saya sedang memperhatikan kehidupan orang lain. Dan saya sedang mencari hikmah dari perjalanan yang Allah izinkan saya lalui.

Mungkin suatu hari perjalanan ini akan berakhir. Kendaraan yang saya gunakan tidak lagi berjalan sejauh hari ini, tenaga tidak lagi sekuat sekarang, dan usia pun terus bertambah. Tetapi saya berharap pelajaran yang saya dapatkan dari perjalanan ini tetap tinggal di dalam hati.

Sebab ternyata kehidupan tidak selalu memberikan pelajaran melalui buku, sekolah, atau ruang pengajian. Kadang Allah mengajarkan kita melalui jalan yang kita lewati setiap hari, melalui pedagang kecil di pinggir jalan, melalui pengemudi yang sedang menunggu pesanan, melalui orang yang tidak kita kenal, dan melalui sebuah masjid kecil tempat kita berhenti untuk mengangkat tangan dan berdoa.

Inilah perjalanan saya: bekerja sambil belajar, berjalan sambil merenung, lelah sambil bersabar, dan setiap hari berusaha mengingatkan diri bahwa mencari nafkah juga bisa menjadi perjalanan menuju Allah apabila dijalani dengan niat yang baik, cara yang baik, dan hati yang tetap sabar.

Komentar