Hampir enam tahun saya menghabiskan sebagian malam di beberapa masjid di Kota Yogyakarta. Ada masjid yang berdiri di dekat pusat perbelanjaan, ada yang berada di sudut kampung yang sunyi, bahkan ada sebuah masjid kecil yang letaknya tidak jauh dari krematorium. Saya tidak sedang mencari sensasi, bukan pula ingin dianggap sebagai ahli ibadah. Saya hanya ingin mengetahui satu hal yang sederhana, siapa sebenarnya orang-orang yang dipanggil Allah untuk bangun pada sepertiga malam.
Malam memiliki wajah yang berbeda. Ketika hiruk-pikuk kota mulai mereda, suara kendaraan berkurang, dan toko-toko menutup pintunya, masjid justru terasa hidup dengan cara yang lain. Di siang hari, kita mengenal seseorang dari pakaian, jabatan, atau pekerjaannya. Namun di sepertiga malam, semua itu seperti hilang. Yang tersisa hanyalah seorang hamba dengan Tuhannya.
Masjid kecil dekat krematorium itu memberi kesan yang sulit saya lupakan. Pintu masjid selalu terbuka bagi musafir. Siapa pun boleh beristirahat di sana. Kadang ada pengemudi ojek online yang merebahkan badan setelah seharian mencari penumpang. Ada sopir, pekerja malam, bahkan orang-orang yang tidak pernah kita kenal latar belakangnya. Semua dipersatukan oleh satu atap yang sama: rumah Allah.
Menjelang tengah malam, suasana masih belum benar-benar sunyi. Tukang becak masih sesekali melintas, pulang setelah menunggu penumpang hingga lewat pukul dua belas. Lampu-lampu jalan masih menyala, tetapi perlahan kota mulai terlelap.
Di masjid itu saya sering ditemani seorang bapak yang setiap hari membersihkan lantai, menyapu halaman, merapikan sandal jamaah, dan memastikan rumah Allah tetap bersih. Orang mungkin tidak mengenalnya. Namanya tidak tertulis di papan kehormatan. Namun malam-malam yang saya lalui menjadi hangat karena cerita-ceritanya.
Suatu malam, di tengah keheningan, ia berkata pelan dengan logat Jawanya yang khas,
"Tahajud kuwi panggilan Pengeran, Gus."
Saya terdiam.
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa sangat dalam. Ia tidak mengutip kitab tebal, tidak menyampaikan ceramah panjang. Hanya satu kalimat yang lahir dari pengalaman hidupnya.
Saya kemudian memahami bahwa memang tidak semua orang mudah bangun untuk tahajud. Banyak yang berniat, tetapi tertidur. Banyak yang memasang alarm, tetapi mematikannya kembali. Seolah ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika manusia.
Mungkin benar, tahajud bukan hanya soal kuat menahan kantuk, tetapi juga soal siapa yang sedang dipanggil oleh Allah untuk datang menghadap-Nya.
Sejak saat itu, saya tidak lagi memandang tahajud sebagai sekadar ibadah malam. Saya melihatnya sebagai sebuah undangan. Undangan yang tidak diberikan karena seseorang kaya, terkenal, atau memiliki kedudukan tinggi. Tetapi karena Allah berkehendak mengetuk hati seorang hamba.
Di masjid-masjid itulah saya belajar bahwa orang-orang yang bangun malam tidak selalu orang yang sempurna. Ada yang datang dengan membawa air mata, ada yang memohon rezeki, ada yang meminta kesembuhan, ada yang sedang memikul amanah yang berat, bahkan ada yang hanya ingin mendapatkan ketenangan hati.
Mereka datang bukan karena merasa suci, tetapi karena menyadari bahwa hanya kepada Allah tempat kembali.
Kini, setiap kali mengingat kalimat bapak penjaga masjid itu, hati saya selalu bergetar.
"Tahajud kuwi panggilan Pengeran, Gus."
Kalimat itu terus hidup dalam ingatan saya. Ia mengajarkan bahwa dalam hidup ini, tidak semua panggilan harus dijawab dengan langkah kaki. Ada panggilan yang hanya bisa dijawab dengan hati yang bersedia bangun ketika dunia sedang tertidur, lalu bersujud dalam sunyi, berbicara kepada Allah tanpa diketahui siapa pun.
Barangkali, pada akhirnya, kemuliaan seorang hamba bukan ditentukan oleh seberapa banyak manusia mengenalnya, tetapi oleh seberapa sering namanya disebut di hadapan Allah pada sepertiga malam. Di saat itulah, dalam sunyi yang tidak terlihat oleh manusia, seorang hamba menemukan kedekatan yang paling tulus dengan Rabb-nya.
Komentar
Posting Komentar