Kembali kepada Allah, Jalan Terbaik dalam Perjuangan Hidup
Dalam setiap perjuangan hidup, saya menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak mampu saya kendalikan. Ada pekerjaan yang belum berhasil, peluang yang datang lalu tertutup kembali, rencana yang belum terwujud, hingga kondisi kesehatan yang perlahan tidak lagi sekuat dahulu. Semua itu terkadang membuat hati terasa berat. Jika tidak segera kembali kepada Allah, pikiran akan mudah terjebak dalam rasa kecewa, putus asa, bahkan kehilangan harapan.
Di saat seperti itulah saya hanya mampu menguatkan hati dengan satu keyakinan, bahwa saya harus ikhlas menjalani setiap proses yang Allah tetapkan. Saya hanya memiliki kewajiban untuk berusaha dengan sungguh-sungguh. Adapun hasilnya adalah hak Allah untuk menentukan. Tugas manusia adalah berjalan, sedangkan tujuan akhirnya berada dalam ketetapan-Nya.
Saya juga belajar untuk tidak membandingkan hasil hidup dengan orang lain. Rezeki, kesempatan, kesehatan, bahkan keberhasilan setiap orang memiliki ukuran yang berbeda. Apa yang Allah berikan kepada saya, itulah yang harus saya syukuri. Tidak perlu memaksa diri agar sama dengan orang lain, karena setiap manusia memiliki jalan hidup yang telah ditentukan sesuai hikmah yang mungkin belum mampu kita pahami hari ini.
Perjalanan hidup ternyata bukan hanya menguji kemampuan bekerja, tetapi juga menguji kekuatan mental, kesabaran, dan keikhlasan. Lingkungan tempat kita hidup sangat memengaruhi hati dan pikiran. Cara bicara orang lain, keberhasilan mereka, penampilan mereka, bahkan komentar yang kita dengar setiap hari dapat memengaruhi ketenangan jiwa apabila hati tidak memiliki pegangan yang kuat kepada Allah.
Karena itu, saya meyakini bahwa jalan terbaik adalah selalu kembali kepada-Nya. Menyediakan waktu dalam setiap dua puluh empat jam untuk benar-benar berkomunikasi dengan Allah. Mengadu segala kegelisahan, menyerahkan semua rencana, memohon petunjuk, kemudian menerima dengan lapang dada apa pun yang telah menjadi keputusan-Nya. Saat itulah hati menjadi lebih tenang, karena kita menyadari bahwa tidak semua persoalan harus mampu kita selesaikan sendiri.
Allah berfirman:
"Wa may yatawakkal 'alallāhi fahuwa hasbuh."
"Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan keperluannya." (QS. At-Talaq: 3)
Ayat ini mengajarkan bahwa setelah ikhtiar dilakukan, manusia perlu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tawakal bukan berarti berhenti berusaha, tetapi percaya bahwa keputusan Allah adalah keputusan yang paling baik, meskipun terkadang tidak sesuai dengan keinginan kita.
Sebagai seorang Muslim, saya juga belajar bahwa keberhasilan bukan alasan untuk menyombongkan diri. Harta, jabatan, ilmu, dan kemampuan hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh pemiliknya. Karena itu, ketika Allah memberikan kelebihan, sudah sepatutnya kita menggunakannya untuk membantu orang lain. Membantu tidak selalu harus dengan harta. Bisa dengan ilmu, tenaga, perhatian, doa, atau sekadar memberikan semangat kepada mereka yang sedang kehilangan harapan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Khairunnāsi anfa'uhum linnās."
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
Inilah tujuan yang ingin saya pegang dalam menjalani kehidupan. Bukan menjadi orang yang paling dikenal, tetapi menjadi orang yang membawa manfaat. Bukan menjadi orang yang paling dipuji, tetapi menjadi orang yang tetap rendah hati ketika diberi nikmat dan tetap sabar ketika diuji.
Pada akhirnya, kehidupan ini bukan perlombaan siapa yang paling kaya atau paling berhasil. Kehidupan adalah perjalanan untuk mengenal Allah, memperbaiki diri, dan meninggalkan jejak kebaikan. Selama napas masih diberikan, kesempatan untuk berubah dan berbuat baik masih terbuka. Maka janganlah berbangga dengan apa yang kita miliki, tetapi mari bersama-sama menguatkan saudara-saudara kita yang sedang membutuhkan. Sebab ketika kita saling menguatkan dalam kebaikan, di situlah keberadaan kita menjadi lebih bermakna, baik di hadapan manusia maupun di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Komentar
Posting Komentar